Ismail Haniya

Kamis, 10 Juni 2010



Ismail Haniya (lahir di Gaza pada tahun 1962; bahasa Arab: إسماعيل هنية) adalah seorang politikus Palestina. Ia adalah Perdana Menteri Otoritas Nasional Palestina dari 19 Februari 2006 hingga sekarang [[]]. Haniya dikenal sebagai pemimpin Hamas yang lebih moderat dan dekat dengan pemimpin spiritual Hamas, Sheikh Ahmad Yassin, yang dibunuh Israel.

Lahir di perkampungan pengungsi al-Shari pada tahun 1962, tahun 1987 ia lulus dari Universitas Islam Gaza dengan gelar dalam bidang sastra Arab. Haniya lalu dipenjara tanpa tuduhan oleh pemerintah Israel selama tiga tahun dari tahun 1989 hingga 1992. Setahun kemudian ia menjadi kepala fakultas di Universitas Islam Gaza. Kemudian pada pemilu 2006, ia dipilih Hamas sebagai calon legislatif urutan pertama Hamas.


Salah seorang pemimpin yang kini membuat hati kaum muslimin berbunga-bunga setiap kali menyaksikannya adalah Ismail Haniya (kelahiran 1963). Perjuangan, ketegaran, wibawa dan bahkan penampilannya menerbitkan optimisme dalam diri saya terhadap masa depan manusia, terhadap kemampuan manusia untuk menepis godaan uang dan kedudukan demi kepentingan pribadi.

orang-orang.., sampai-sampai berseloroh bahwa Ismail Haniya ini bahkan secara fisik memiliki ciri-ciri sebagai pejuang. Tubuhnya gagah besar seperti pilar di koliseum Athena, berwajah bulat sebesar kubah al-Aqsa dan bersuara sekeras dentang lonceng Gereja Bethlehem. Pokoknya postur tubuhnya mendukung jiwanya yang sebesar perjuangan rakyat palestina. Saya sangat bersyukur bahwa di kalangan umat Nabi Muhammad ini masih ada sejumlah pemimpin yang berani lantang menantang Israel dan AS, tidak mau menjual harga diri umat demi kesenangan dan kemasyhuran sesaat. Bukan hanya itu, Ismail Haniya ternyata juga pemimpin yang berwawasan dan memiliki strategi perjuangan yang komprehensif. Di reruntuhan kehinaan bangsa Arab dalam menghadapi tekanan Zionis dan neokonservatif AS, Haniya tegar berdiri menantang. Haniya seperti oase di tengah tandusnya semangat perjuangan bangsa Arab. Dia adalah inspirasi bagi banyak pemuda Palestina, tidak hanya bagi anggota Hamas.

Di tengah aksi blokade finansial dan ekonomi Israel atas Gaza, Haniya menyarankan agar semua anggota Hamas, terutama pejabat teras, untuk menggunakan damar untuk menerangi ruang-ruang rapat. Dia sendiri juga sudah memakai damar di rumahnya dan menggunakan jasa baik keledai untuk bertransportasi dari rumah ke kantornya.

Dalam perhelatan akbar memperingati ulang tahun Hamas yang ke-20, tanggal 15 Desember kemarin, Haniya berpidato mendeklarasikan prinsip-prinsip perjuangan Hamas yang didirikan pada 1987 silam. Haniya mengemukakan bahwa kehadiran ratusan ribu pemuda di alun-alun Gaza itu adalah bukti bahwa Hamas bukan organisasi yang telah kehilangan basis massa melainkan justru sedang panen raya popularitas dan dukungan.

Haniya berpidato, “Kalau ada pengamat politik yang menyatakan bahwa Hamas kehilangan dukungan, suruh dia datang kemari dan menyaksikan dengan mata telanjang mengapa begitu banyak pemuda di sini? Mengapa mereka terus meneriakkan yel-yel perjuangan yang telah dibawa oleh para pemimpin syahid kita seperti Syaikh Ahmad Yasin dan Dr. Abdul Aziz Rantisi? Banyak kekuatan di dunia ini yang mati-matian berupaya menghancurkan Hamas. Tapi, saya tegaskan bahwa Hamas adalah organisasi nasional yang tumbuh dari jiwa-jiwa merdeka dan siap berkorban untuk perjuangan rakyat Palestina. Selama Hamas masih berada dalam garis perjuangan itu, selama itu pula Hamas pasti akan mendapatkan dukungan dan kekuatan. Selama Hamas memilih strategi perlawanan untuk mengembalikan hak-hak rakyat Palestina, kehormatan dan tanah mereka, tak akan ada kekuatan di dunia ini yang bisa mengalahkannya.”

Hamas yang kini dipimpin oleh Khaled Misy’al itu memang bukan organisasi cangkokan hasil kompromi kekuatan asing, melainkan tumbuh dari dan bersama pilihan rakyat. Dari sini kita bisa melihat bahwa Hamas dan juga Jihad Islam terus berkembang menjadi pilihan strategis seluruh pemuda Palestina.

Dalam orasi berkobar-kobar itu, Haniya melanjutkan, “Konferensi Annapolis tidak akan membawa hasil apa-apa bagi para pesertanya. Dan nyatanya memang seperti itu dan akan selalu seperti itu. Saya yakin bahwa kita sudah tidak mungkin lagi diberi iming-iming kosong yang selama ini mereka tawarkan. Perjuangan merebut hak tidak mungkin dicapai hanya lewat negosiasi dan kompromi. Harus adalah perlawanan politik, militer dan perlawanan populer dalam perjuangan… Pembebasan Lebanon dan Gaza adalah bukti nyata bahwa perlawanan adalah strategi yang jitu dan efektif… Kita pro dialog antar-faksi Palestina, tapi kita tidak mau ada prasyarat untuk melakukan dialog. Apalagi bila prasyarat-prasyarat itu tidak muncul dari aspirasi rakyat Palestina, melainkan hasil tekanan dari musuh-musuh rakyat.”

0 komentar:

Poskan Komentar