Tampilkan postingan dengan label Tokoh Ikhwanul Muslimin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Ikhwanul Muslimin. Tampilkan semua postingan

Muhammad Mursi

Rabu, 15 Agustus 2012

20 Agustus 1951: Dr. Muhammad Mursi dilahirkan di desa Adwah provinsi Sharqia 1970-1975: pindah ke Kairo untuk melanjutkan kuliah sarjana di fakultas tehnik dan lulus dengan nilai cum laude. Kemudian menjadi dosen di kampus tersebut. 1975: ikut wajib militer selama dua tahun sebagai prajurit di persenjataan perang kimia, divisi dua infantri. 30 November 1978: menikah dan dikarunia 4 anak dan 3 cucu. Kedua anaknya mendapatkan kewarganegaraan Amerika. 1978: pergi ke Amerika Serikat untuk bekerja dan melanjutkan kuliah. Mendapatkan gelar Master di bidang enegi matahari. 1979: menjadi anggota Al-Ikhwan Al-Muslimun (Ikhwan) 1982: mendapat gelar doktor di bidang mesin penggerak udara dari Universitas California Selatan. 1982-1985: bekerja sebagai dosen pembantu di Universitas California. 1985: bekerja sebagai dosen dan dekan fakultas teknik (rekayasa material) Universitas Zagaziq Provinsi Sharqia hingga tahun 2010. 1992: anggota bidang politik Ikhwan. 2000: caleg dalam pileg dan berhasil menjadi aleg. Menjadi juru bicara fraksi Ikhwan di parlemen Mesir hingga tahun 2005. 2004: ikut dalam pendirian Fron Nasional untuk Perubahan bersama Dr. Aziz Sidqi. 2005: ikut menjadi caleg dan berhasil sebagai aleg dengan perolehan suara paling tinggi dibandingkan dengan calon-calon lainnya. Tapi kemudian dilakukan pemilu putaran kedua, calon lainnya diumumkan sebagai pemenangnya. 18 Mei 2006: Mursi ditangkap di depan pengadilan utara Kairo saat beliau ikut dalam aksi demo menentang pemindahan dua hakim ke komisi arbitrase. Kedua hakim itu adalah Mahmud Makki dan Hisyam Bastuwaesi. Kedua hakim ini terkenal akan sikapnya yang menentang kecurangan pemilu legislatif tahun 2005. 10 Desember 2006: Muhammad Mursi dibebaskan 2010: ikut bersama Dr. Muhammad el-Baradai mendirikan Organisasi Nasional untuk Perubahan. 28 Januari 2011: Aparat keamanan Mesir menahan Mursi bersama 34 pimpinan Ikhwan lainnya karena ikut dalam aksi demo “Jumat Marah”. 30 Januari 2011: penduduk Mesir membebaskan Mursi setelah aparat keamanan kabur meninggalkan penjara selama terjadinya revolusi Mesir (25 Januari 2011). 11 Pebruari 2011: Husni Mubarak mundur dari tahta presiden dan kekuasaan negara diambil alih oleh dewan militer. 30 April 2011: majelis syuro Ikhwan memilih Mursi sebagai ketua Partai Kebebasan dan Keadilan (FJP), sayap politik Ikhwan. Disamping memilih Mursi, majelis syuro Ikhwan juga memilih Esam Oryan menjadi wakil ketua FJP dan Muhammad al-Katatni sebagai sekretaris jendral FJP. Juni 2011: Mursi ikut dalam pendirian Aliansi Demokrasi untuk Mesir, yang beranggotakan 40 partai politik untuk terjun dalam pemilu legislatif. 7 April 2012: FJP mengumumkan Mursi sebagai calon cadangan dalam pemilu presiden untuk calon Ikhwan dan FJP yang sudah siap, Khaerat Syater. Syater kemudian didiskualifikasi oleh KPU Mesir karena alasan hukum. 17 April 2012: pengumuman Ikhwan menjelaskan bahwa Mursi akan bertarung dalam pilpres menggantikan Syater membawa program “kebangkitan”. 23-24 Mei 2012: putaran pertama pilpres dimulai. 28 Mei 2012: ketua KPU Mesir, Faruq Sultan mengumumkan perolehan suara Muhamad Mursi sebanyak 5.764.952 suara dan Ahmad Syafiq memperoleh 5.505.327 suara. Dengan begitu harus dilakukan putaran kedua. 16-17 Juni 2012: putaran kedua pilpres dimulai dengan pertarungan sengit antara Mursi dan Syafiq. 18 Juni 2012: tim kampanye Mursi mengumumkan kemenangan calonnya setelah perhitungan di masing-masing tempat pemungutan suara direkap. Kemudian Mursi berpidato dalam konfrensi pers yang isinya Mursi berjanji menjaga tujuan revolusi. 24 Juni 2012: ketua KPU Mesir, Faruq Sultan mengumumkan kemenangan Mursi sebagai presiden Mesir yang baru. Sumber: http://www.almasryalyoum.com/node/941791
READ MORE - Muhammad Mursi

Ma’mun Al-Hudaibi (Mursyid Am Ikhwanul Muslimin: 6)

Kamis, 10 Juni 2010


Mengenal Para Mursyid Am Ikhwanul Muslimin: 6.
Oleh: Al-Ikhwan.net
http://www.al-ikhwan.net/mengenal-para-mursyid-am-ikhwanul-muslimin-6-mamun-al-hudaibi-2397/


mamun-hudaibi6. Ma’mun Al-Hudaibi; Mursyid Am keenam Ikhwanul muslimi

Beliau adalah seorang konsultan dan jaksa; Muhammad Ma’mun Hasan Ismail Al-Hudaibi, mursyid ke enam jamaah Ikhwanul muslimin, anak kandaung dari konsultan Hasan Al-Hudaibi, Mursyid Am kedua Ikhwanul muslimin yang menjabat pada tahun 1950 sampai 1973

beliau Lahir di propinsi Sohaj, Mesir tanggal 28 Mei 1921, dan keluarganya berasal dari desa Arab As-Shawalihah, distrik Syibin El-Qanatir, propinsi Al-Qolyubiyah, lalu setelah itu keluarganya banyak berpindah ke berbagai tempat dan kota di Mesir; karena orang tuanya adalah seorang Jaksa Hasan Al-Hudaibi, yang merupakan mursyid am kedua Ikhwanul Muslimin pada masa dari tahun 1951 hingga meninggal pada tanggal 13 Nopember 1973

Aktivitas Beliau

Ustadz Muhammad Ma’mun Al-Hudaibi menjalani masa pendidikan umum di berbagai sekolah di Mesir mulai dari tingkat ibtidaiyah hingga kuliah dan meraih sarjana pada kuliah hukum di Universitas Raja Fuad (sekarang universitas Kairo). setelah itu beliau ditetapkan sebagai wakil jaksa.

Kemudian secara beransur menjabat sebagai Jaksa Penuntut Umum kemudian ditunjuk sebagai hakim.

Kemudian setelah itu menjabat bidang peradilan hingga menjadi Ketua Pengadilan Banding di kejaksaan pemula di Kairo, yang merupakan akhir karirnya di pemerintahan di Mesir.

Setelah itu bekerja di Arab Saudi dalam satu periode dan kemudian kembali ke Kairo untuk mencurahkan dirinya dalam dakwah.

Akhirnya beliau menjabat sebagai ketua Pengadilan untuk Gaza pada tahun 1956.

Bersama jamaah Ikhwanul Muslimin

Ustadz Ma’mun Hudhaibi berpartisipasi dalam berbagai aktivitas dakwah dan harakah terutama dalam melakukan perlawanan rakyat saat terjadi agresi selasa atas Mesir pada tahun 1956 sehingga beliau ditangkap oleh pasukan pendudukan Israel

Kemudian beliau bergabung dengan jamaah Ikhwanul Muslimin, namun dirinya tidak terlepas dari penjara dan penangkapan pada masa pemerintahan Jamal Abdul Nasser pada tahun 1965 dan dipindahkan dari penjara perang dan Tora saat itu.

Kemudian pada pemerintahan Sadat pada tahun 1971 dibebaskan dari penjara, dan kemudian mengajukan gugatan untuk menuntut kembali bekerja di bidang peradilan, maka Pengadilan pun mengangkatnya kembali namun pemerintah menolaknya untuk kembali bekerja tanpa memberikan justifikasi apapun.

Di Parlemen

Jamaah mencalonkan beliau dan sekelompok Ikhwan lainnya pada pemilu tahun 1987 legislatif dan berhasil meraih 36 orang untuk menjadi anggota parlemen

Beliau menjadi anggota parlemen dari daerah pemilihan Al-Dokki, Propinsi Al-Giza

Kemudian pada saat itu pula beliau diangkat untuk menjabat sebagai juru bicara resmi fraksi Ikhwanul muslimin di Parlemen

Dan setelah itu, beliau terpilih sebagai Wakil Mursyid Am Ikhwanul Muslimin dan menjadi juru bicara jamaah Ikhwanul muslimin

Menjabat sebagai mursyid am Ikhwanul Muslimin

Pada saat menderita sakit dan koma yang dialami oleh Mursyid Am Ikhwanul Muslimin ustadz Mustafa Mashhour pada tanggal 29 Oktober 2002 akibat pendarahan otak yang telah meraja lela pada dirinya, dan akhirnya ustadz Ma’mun Hudaibi mengambil alih tugas jabatan Ikhwanul Muslimin.

Dan Pada hari Rabu sore, tanggal 22 Ramadan 1423 bertepatan dengan tanggal 27 November 2002 beliau terpilih menjadi Mursyid Am Ikhwanul Muslimin, menggantikan posisi ustadz Mustafa Mashhour sehingga beliau resmi menjadi Mursyid Am keenam Ikhwanul Muslimin

Wafatnya

Ustadz Ma’mun Al-Hudaibi meninggal setelah berbagai penyakit dan permasalahan kesehatan menyerang beliau, sehingga membuatnya sering keluar masuk rumah sakit untuk mendeteksi usus besarnya, kemudian meninggal setelah kembali ke rumahnya di Kairo.

Lebih dari 300 ribu warga ikut menyalatkan beliau di Masjid Rab’ah al-adawiyah setelah salat Jumat dan yang menjadi imam saat itu adalah “Khaled Hudhaibi,” putra almarhum, dan yang menjadi imam qashar bagi para musafir adalah ustadz Mohamed Helal, Mursyid Am sementara, karena beliau adalah anggota tertua hingga diadakan pemilihan baru

Prosesi pemakaman beliau dilakukan dengan berjalan kaki dari masjid menysuri jalan An-nasr, hingga tiba di pusat klub Al Ahli Al-Jadid di Nasr City, Timur Kairo, kemudian mayat beliau diusung dengan menggunakan mobil khusus dan diiringi dibelakangnya oleh ratusan mobil, mayat Ustadz Ma’mun dibawa untuk dikubur di pemakaman keluarganya di daerah Arab Alsowalihah, distrik Shibin El-Qanatir, provinsi Qaliubiya; dan almarhum dimakamkan disamping ayahnya “Hasan Al-Hudhaibi,” mursyid am Ikhwanul muslimin kedua.
READ MORE - Ma’mun Al-Hudaibi (Mursyid Am Ikhwanul Muslimin: 6)

Syeikh Muhammad Al-Ghazali (Tokoh Ikhhwan Al-Muslimin)


Syeikh Muhammad Al-Ghazali; Da’i dan Ulama Kontemporer
Tokoh Ikhwan
24/6/2009 | 1 Rajab 1430 H | 2,713 views
Oleh: Al-Ikhwan.net


Ustadz Muhammad Al-Ghazali adalah seorang dai brilliant, memiliki semangat menggelora, keimanan mendalam, perasaan lembut, tekad membaja, lincah, ungkapan-ungkapan mensastra, terkesan, mengesankan, supel dan pemurah. Ini semua diketahui setiap orang yang pernah hidup bersamanya, menyertai dan bertemu dengannya.

Ia tidak suka memaksakan diri (takalluf), benci kesombongan dan sikap sok tahu, aktif mengikuti perkembangan sosial dengan segala persoalannya, ikut menyelesaikan problematika umat, mengungkap hakikat, dan mengingatkan umat tentang bencana yang ditimbulkan syaitan-syaitan manusia dan jin; baik dari Barat maupun dari Timur.

Beliau juga selalu memberi semangat kepada umat Islam untuk berjuang di jalan Allah, dan membela kaum lemah, menyadarkan mereka perihal konspirasi musuh-musuh Islam di dalam dan luar negeri, mengungkap rencana-rencana busuk mereka untuk memerangi Islam dan kaum muslimin, membongkar kebusukan Komunisme, Sekularisme, Freemasonry, Atheisme, Eksistensisme, Salibisme, dan Zionisme. Ia senantiasa mengingatkan umat tentang persekongkolan kekuatan-kekuatan jahat untuk melawan Islam dan dainya, serta menjelaskan cara melawan serangan kekuatan kufur.

“Syeikh Muhammad Al-Ghazali merupakan salah satu tokoh Islam abad modern. Ia adalah dai yang sulit ditemukan tandingannya di dunia Islam saat ini. Ia jenius dan keindahan katanya menawan hati, hingga saya dapat menghafal beberapa ungkapan, bahkan beberapa lembar tulisannya, lalu mengulang teks aslinya di beberapa ceramah”. Demikian komentar DR. Yusuf Al-Qardhawi di bukunya As-Syaikh Al-Ghazali kama Araftuhu (Syaikh Al-Ghazali yang saya kenal).

Syeikh Muhammad Al-Ghazali lahir pada tanggal 22 September 1917, di kampung Naklal Inab, Ital Al-barud, Buhairah, Mesir. Di dibesarkan di keluarga agamis yang sibuk di dunia perdagangan. Ayahnya hafizh Al-Qur’an. Lalu sang anak tumbuh mengikuti jejak ayahandanya dan hafal Al-Qur’an semenjak usia sepuluh tahun.

Syeikh Muhammad Al-Ghazali menerima ilmu dari guru-guru di kampungnya. Ia masuk sekolah agama di Iskandariah dan menamatkan tingkat dasar hingga menengah atas (SMU). Kemudian pindah ke Kairo untuk melanjutkan kuliah di Fakultas Ushuluddin dan mendapat ijazah pada tahun 1361/1943 M. ia mengambil spesialisasi dakwah wal Irsyad dan mendapat gelar Megister tahun 1362/1943. Para guru yang paling berpengaruh padanya saat studi ialah Syaikh Abdul Aziz Bilal, Syaikh Ibrahim Al-Gharbawi, Syaikh Abdul Azhim Az-Zarqani dan lain-lain.

Syeikh Muhammad Al-Ghazali menikah saat masih kuliah di fakultas Ushuluddin dan dikaruniai sembilan orang anak.

Aktivitas syeikh Muhammad Al-Ghazali

Setelah menyelesaikan studi, syeikh Muhammad Al-Ghazali menjadi imam dan khatib di masjid Al-Atabah Al-Khadra. Setelah itu ia mendapat banyak jabatan yang secara berurutan sebagai berikut; dewan pengawas masjid, dewan penasihat Al-Azhar, wakil dewan urusan masjid, direktur urusan masjid, direktur pelatihan, direktur dakwah wal irsyad.

Tahun 1949 syaikh Muhammad Al-Ghazali mendekam di penjara Ath-Thur selama satu tahun dan penjara Tharah tahun 1965 selama beberapa waktu.

Syeikh Muhammad Al-Ghazali menjadi dosen tamu di universitas Ummul Qura, Mekah Al-Mukarramah tahun 1971. Tahun 1981 ia ditunjuk sebagai wakil menteri, kemudian memegang jabatan ketua dewan keilmuan universitas Al-Amir Abdul Qadir Al-Jazairi Al-Islamiyah.

Awal perkenalan syeikh Muhammad Al-Ghazali dengan imam Hasan Al-Banna

Awal interaksi syeikh Muhammad Al-Ghazali dengan imam Syahid Hasan Al-Banna dikisahkan oleh ustadz Muhammad Majdzub di bukunya ulama wa mufakkirun araftuhum. Ustadz madzub mengutip ucapan Al-Ghazali: “…perkenalan itu bermula saat saya belajar di sekolah menengah (SMU) Iskandariah. Saat itu, saya punya kebiasaan menetap di Masjid Abdurrahman bin Harmuz, daerah Ra’sut tiin selepas shalat Maghrib, untuk mengulang pelajaran. Pada suatu sore, imam Al-Banna menyampaikan nasihat singkat tentang penjelasan: “Bertaqwalah kepada Allah dimana saja ikutilah setiap perbuatan buruk dengan perbuatan baik, tentu yang baik akan menghapusnya..” kata-katanya sangat berkesan dan langsung menembus ke hati yang paling dalam. Setelah mendengar nasihat itu, hatiku tertambat kepadanya. Saya tertarik kepada sosok dan pribadinya. Sejak itu, hubunganku dengannya terjalin erat. Saya senantiasa bersamanya selepas shalat Isya, di majelis yang terdiri dari tokoh-tokoh dakwah. Selanjutnya, saya meneruskan aktivitas dalam perjuangan Islam bersama dai besar ini, hingga ia syahid tahun 1949.

Pada mukadimah buku dusturul wihdah ats-tsaqafiyah lil muslimin, Muhammad Al-Ghazali berkata:”Inspirasi dan tema buku ini berasal dari Imam Hasan Al-Banna; pembaharu abad XIV hijriyah. Ia telah meletakkan prinsip yang dapat menyatukan umat, memperjelas tujuan yang samar, mengembalikan kaum muslimin kepada Al-Qur’an dan As-sunnah, serta menyingkirkan penyimpangan dan sikap santai, dengan halus dan cermat, sehingga kelemahan dan kemalasan tidak terjadi”.

Tentang mursyid am kedua Ikhwanul Muslimin, ustadz Hasan Al-Hudaibi, Muhammad Al-Ghazali menyatakan: “..Sebenarnya ia tidak pernah berupaya untuk memimpin Ikhwanul Muslimi, tetapi ikhwanlah yang minta ia menjadi pimpinan. Ketegasan dan ketegarannya berhak untuk diketahui semua orang. Ia tidak pernah berkeluh kesah atau mundur karena musibah atau ujian. Sampai usia senja ia tetap memiliki keimanan mendalam dan optimisme tinggi. Tidaklah salah bila dikatakan bahwa kesabaran yang mengokohkan imannya itu menjadikannya lebih mulia dalam pandangan saya. Musibah yang menimpa diri dan keluarganya secara bertubi-tubi tidak mengikis sifat jujurnya dalam menghukumi masalah. Bahkan, tidak membuatnya surut dari manhaj jamaah Islamiyah, malah sebaliknya. Saya menemuinya setelah berbagai musibah berlalu untuk memperbaiki hubungan dengannya”.

Komentar orang tentang syeikh Muhammad Al-Ghazali

Satu hal yang membanggakan syeikh Muhammad Al-Ghazali ialah saat menerima surat dari imam Al-Banna, padahal ia masih muda belia tahun 1945. Surat imam Al-Banna berbunyi:

“Saudaraku yang mulia, syeikh Muhammad Al-Ghazali…

Assalamu’alaiku warahmatullahi wabarakatuh.

Saya sudah membaca makalah Anda yang bertema Al-Ikhwanul Muslimin wal Ahzab di edisi akhir majalah Ikhwanul muslimin. Saya sangat kagum dengan ungkapan makalah tersebut yang ringkas, maknanya yang cermat, dan adabnya yang sopan. Seperti inilah hendaknya kalian menulis, wahai Ikhwan! Menulislah dengan dukungan hati yang tulus. Semoga Allah Ta’ala selalu bersamamu.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Hasan Al-Banna.

DR. Abdus Shabur Syahin berkata: “Yang saya tulis ini adalah penghormatan bagiku, sebelum menjadi pengantar buku. Sebab, buku yang disampulnya tertulis nama ustadz Muhammad Al-Ghazali tidak lagi membutuhkan pengantar. Menurutku, ia meraih mahkota ilmu yang melimpah. Dunia telah membaca bukunya tentang Islam dan dakwah. Juga menerima karya yang belum pernah diterima dari seorangpun yang sezaman dengannya. Kita dapat mengatakan, zaman kita sekarang ini milik ustadz Muhammad Al-Ghazali.

Syeikh Al-Azhar Abdul Halim Mahmud mengakui kemuliaan dan membanggakan syeikh Muhammad Al-Ghazali dengan mengatakan: “Kita punya Muhammad Al-Ghazali yang masih hidup dan Muhammad Al-Ghazali penyusun kitab Al-Ihya”. (Yakni Muhammad Al-Ghazali dan Imam Al-Ghazali penyusun kitab Ihya Ulumuddin).

Aktivis muda Islam memperoleh manfaat dari ilmu, keberanian, keterusterangan, kejujuran dan kejelasan sikap syeikh Muhammad Al-Ghazali.

Ia punya kader di Al-Azhar Mesir, Ummul Qura di Mekah Al-Mukarramah, Fakultas syariah di Qatar, Universitas Al-Amir Abdul Qadir lil ulum Al-Islamiyah Al-Jazair, dan kader lain yang terbina melalui khutbah, kajian, ceramah, seminar, buku, makalah, pertemuan dan muktamar.

Kader syeikh Muhammad Al-Ghazali yang mencapai ribuan di penjuru dunia Islam setia pada dakwah Islam, mengibarkan bendera Islam bersama syeikh mereka dan menyebar ke berbagai penjuru untuk menyampaikan ajaran Islam, menuntun umat kepada kebaikan, keberuntungan dan kemenangan.

Di antara murid Muhammad Al-Ghazali ada yang menjadi ulama besar, antara lain Prof. DR. Yusuf Al-Qardhawi, syeikh Manna Al-Qattan, DR. Ahmad Assal dan lain-lainnya.

Karya-karya ilmiah syeikh Muhammad Al-Ghazali

Syeikh Muhammad Al-Ghazali mewariskan enam puluh buku lebih dalam berbagai tema, plus ceramah, seminar, khutbah, nasihat, kajian dan dialog yang disampaikan di Mesir maupun di luar Mesir. Khutbah yang ia sampaikan di jami’ Al-Azhar, Amr bin Al-Ash, dan khutbah Ied di lapangan Abidin serta jami’ Mahmud punya arti dan pengaruh sangat besar, sebab dihadiri ribuan pendengar.

Diantara buah karya beliau adalah:

• Minhuna na’lam

• Al-Islam wal istibdadus siyasi

• Aqidatul muslim

• Fiqhus sirah

• Khuluqul muslim

• Laisa minal Islam. Dan lain-lainnya….

Sebagian besar buku-buku beliau telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, antara lain: bahasa Inggris, Turki, Perancis, Urdu, Indonesia dan lain sebagainya.

Mayoritas penerjemah adalah murid-murid syeikh Muhammad Al-Ghazali, pengagum dan orang-orang yang mendapat manfaat dari curahan ilmunya.

Sifat-sifat syeikh Muhammad Al-Ghazali

DR. Yusuf Al-Qardhawi berkata: “Mungkin Anda berbeda pandangan dengan Al-Ghazali, atau ia berbeda pendapat dengan Anda dalam masalah-masalah kecil maupun besar, sedikit atau banyak masalah. Tapi, apabila Anda mengenalnya dengan baik, Anda pasti mencintai dan menghormatinya. Karena Anda tahu keikhlasan dan ketundukannya kepada kebenaran, keistiqamahan orientasi dan ghirah nya yang murni untuk Islam.

Memang, Muhammad Al-Ghazali temperamental. Kemarahannya meluap seperti ombak lautan yang menghanyutkan, atau seperti letusan gunung berapi yang meluluhlantakkan. Ia seperti itu karena benci kezhaliman dan kehinaan, baik pada dirinya atau orang lain, tidak suka berlaku zhalim atau dizhalimi, anti merendahkan kehormatan siapa pun dan direndahkan siapa pun, serta tidak menyukai penyimpangan, terutama bila berkedok agama. Ia akan memerangi itu semua dengan sembunyi maupun terang-terangan. Ia berani saat menyerang hal-hal yang diyakininya keliru dan pemberani saat mengakui kekeliruannya.

Pulang ke Rahmatullah

Syeikh Muhammad Al-Ghazali wafat di Riyadh, Arab Saudi, tanggal 9 Maret 1996. Jenazahnya dipindah ke Madinah Al-Munawarah untuk di makamkan di Al-Baqi’. Yang mulia Amir Abdullah bin Abdul Aziz Ali Sa’ud memiliki peran penting dalam memberikan penghargaan kepada Al-Ghazali, baik saat masih hidup maupun setelah meninggal. Juga memberikan bantuan kepada keluarganya.

Semoga Allah ta’ala merahmati syeikh Muhammad Al-Ghazali, memberi balasan yang baik karena jasa-jasanya kepada kaum muslimin. Semoga Allah mengumpulkan kita dan dia bersama para nabi, shiddiqin dan para syuhada dan shalihin. Mereka adalah sebaik-baik teman.
READ MORE - Syeikh Muhammad Al-Ghazali (Tokoh Ikhhwan Al-Muslimin)

Muhammad Badi’ Al-Majid Sami (Mursyid Am IM ke-8)


Profil Muhammad Badi’

Nama: Muhammad Badi’ Al-Majid Sami

Tanggal dan tempat lahir: 7/8/1943 – Mahallah Kubra.

Status Perkawinan: Beliau adalah suami dari Sayyidah Samiyah Shinawi mantan Direktur Sekolah dakwah Islam di Beni Suef, putri dari Haji Mohammad Ali Shinawi seorang officer (pilot) dari generasi pertama jamaah Ikhwanul Muslimin yang dijatuhi hukuman mati pada tahun 1954 namun dianulir menjadi hukuman seumur hidup.

Jumlah Anak: Beliau memiliki 3 anak laki dan wanita:

1. Ammar (Insinyur komputer),

2. Bilal (radiolog),

3. Doha (farmasi),

sebagaimana beliau mempunyai 4 orang cucu yaitu: Ru’a, Habib, Iyad dan Tamim.

Pendidikan dan Prestasi:

- Bachelor of Veterinary Medicine – Kairo pada tahun 1965.

- Dosen Fakultas Kedokteran Hewan – Assiut pada tahun 1965.

- Master of Veterinary Medicine dan seorang asisten guru pada tahun 1977 di Universitas Zagazig.

- Doctor of Veterinary Medicine dan guru dari tahun 1979 di Universitas Zagazig.

- Asisten Profesor fakultas Kedokteran Hewan pada tahun 1983 – Zagazig University.

- Ahli Kedokteran Hewan pada Institut hewan di Sana’a 1982-1986.

- Dosen Kedokteran Hewan di Universitas Kairo pada tahun 1987 – cabang Beni Suef.

- Ketua Departemen Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan di Beni Suef pada tahun 1990 selama dua periode.

- Wakil dekan program Pascasarjana Universitas Beni Suef fakultas Kedokteran Hewan , pada tahun 1993 untuk satu periode.

- Menjadi pembimbing 15 thesis Master dan 12 disertasi doctoral (PhD), dan puluhan penelitian ilmiah di bidang dan spesialisasinya.

Pekerjaan saat ini:

- Dosen tetap bidang Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan – Universitas Beni Suef.

Aktivitas serikat buruh:

- Sekretaris Jenderal Jenderal Persatuan Dokter Hewan untuk dua periode.

- Bendahara persatuan profesi medis untuk satu periode.

Kegiatan sosial dan ilmiah:

- Anggota Asosiasi Dewan Kesejahteraan Islam di Mahalla al-Kubra.

- Anggota dewan club staf lembaga pendidikan Universitas Kairo selama 10 tahun, dan pengawas klub cabang di Beni Suef.

- Wakil Ketua Dewan lembaga dakwah Islam di Beni Suef pada tahun 1996.

- Ketua Asosiasi Perumahan anggota staf dan asisten Universitas Beni Suef.

- Ketua Dewan Direksi patologi dan patologi klinis setingkat negara.

- Ketua lembaga Journal of Veterinary Medical Research dari Fakultas Kedokteran Hewan – Beni Suef selama 9 tahun.

- Ketua Service Center, Fakultas Kedokteran Hewan lingkungan – Beni Suef.

- Pendiri Institut Kedokteran Hewan di Republik Arab Yaman, Sanaa, selama 4 tahun dari 1982-1986, serta mendirikan peternakan unggas dan hewan pribadi, dan penerjemahan kurikulum studi untuk bahasa Arab, dan mendirikan sebuah museum ilmiah dan bidang-bidang ilmiah lainnya pada institut kedokteran hewan.

Amanah dakwah:

- Anggota kantor administrasi di Mahala al-kubra tahun 1975 .

- Ketua kantor administrasi Mahala tahun 1977.

- Ketua Asosiasi Pendidikan negeri di Yaman 1982-1986

- Anggota Kantor Administrasi Beni Suef 1986.

- Ketua kantor administrasi Beni Suef pada tahun 1990.

- Ketua Departemen Pendidikan 1994

- Anggota Maktab Irsyad Alami (internasional) sejak tahun 1996 (Utara dan Selatan dan Utara kemudian hulu Mesir sebagai pengawas Pendidikan dan generasi muda).

- Anggota dari Kantor maktab Irsyad alami dan penilik sistem pendidikan pada tahun 2007.

Posisi dalam jamaah:

- Anggota Maktab Irsyad sejak tahun 1996.

- Anggota Maktab Irsyad alami (internasional) sejak tahun 2007.

Pengalaman bersama jamaah:

- Pengalaman pertama; kasus (militer): dipenjara pada tahun 1965 bersama ustadz Sayyid Quthb dan Ikhwanul Muslimin lainnya, dan dihukum 15 tahun, di mana dia menghabiskan waktu di penjara selama 9 tahun, dan meninggalkannya pada tahnggal 4/4/1974, dan kembali bekerja di Universitas Assiut, dan kemudian dipindahkan ke Universitas Zagazig, dan kemudian ia terbang ke Yaman, lalu kembali dari sana dan mengajar di Universitas Beni Suef.

- Pengalaman kedua: Dipenjara selama 75 hari dalam kasus lembaga dakwah Islam di Beni Suef pada tahun 1998, di mana ia menjadi ketua advokasi Beni Suef setelah penangkapan Haji Hasan Jaudah rahimahullah.

- Pengalaman ketiga; kasus (militer): Masalah anggota serikat buruh pada tahun 1999; di mana pengadilan militer memvonisnya lima tahun penjara, beliau menghabiskan waktu 3 tahun dan tiga perempat tahun, lalu keluar pada putaran pertama pada tiga perempat tahun pada tahun 2003.

- pengalaman keempat: pada saat diadakan pemilu lokal pada bulan April 2008 beliau dipenjara selama satu bulan.

Tulisan dan Buah Karya pada bidang Dakwah:

- Artikel dan Hadits pada situs (ikhwanonline.com) dan lain-lain.

- Tulisan dan khawatir Al-Quran (tadabbur) yang diterbitkan dalam Jurnal pada majalah (mujtama).

- Murajaah dan penyajian konsep dakwah.

Nama Dr Mohammad Badi termasuk salah satu 100 tokoh terbesar di dunia Arab dalam enslikopedi ilmiah Arab yang diterbitkan oleh lembaga Informasi Ilmiah Mesir pada tahun 1999.
READ MORE - Muhammad Badi’ Al-Majid Sami (Mursyid Am IM ke-8)

Hasan Al-Banna


Biografi Hasan Al Banna

Hasan Al Banna dilahirkan di desa Mahmudiyah kawasan Buhairah, Mesir tahun 1906 M. Ayahnya, Syaikh Ahmad al-Banna adalah seorang ulama fiqh dan hadits. Sejak masa kecilnya, Hasan al Banna sudah menunjukkan tanda-tanda kecemerlangan otaknya. Pada usia 12 tahun, atas anugerah Allah, Hasan kecil telah menghafal separuh isi Al-Qur'an.
Sang ayah terus menerus memotivasi Hasan agar melengkapi hafalannya. Semenjak itu Hasan kecil mendisiplinkan kegiatannya menjadi empat. Siang hari dipergunakannya untuk belajar di sekolah.


Kemudian belajar membuat dan memperbaiki jam dengan orang tuanya hingga sore. Waktu sore hingga menjelang tidur digunakannya untuk mengulang pelajaran sekolah. Sementara membaca dan mengulang-ulang hafalan Al-Qur'an ia lakukan selesai shalat Shubuh. Maka tak mengherankan apabila Hasan al Banna mencetak berbagai prestasi gemilang di kemudian hari. Pada usia 14 tahun Hasan al Banna telah menghafal seluruh Al-Quran. Hasan Al Banna lulus dari sekolahnya dengan predikat terbaik di sekolahnya dan nomor lima terbaik di seluruh Mesir. Pada usia 16 tahun, ia telah menjadi mahasiswa di perguruan tinggi Darul Ulum.

Demikianlah sederet prestasi Hasan kecil. Selain prestasinya di bidang akademik, Ia juga memiliki bakat leadership yang cemerlang. Semenjak masa mudanya Hasan Al-Banna selalu terpilih untuk menjadi ketua organisasi siswa di sekolahnya. Bahkan pada waktu masih berada di jenjang pendidikan i'dadiyah (semacam SMP), beliau telah mampu menyelesaikan masalah secara dewasa, kisahnya begini:

Suatu siang, usai belajar di sekolah, sejumlah besar siswa berjalan melewati mushalla kampung. Hasan berada di antara mereka. Tatkala mereka berada di samping mushalla, maka adzan pun berkumandang. Saat itu, murid-murid segera menyerbu kolam air tempat berwudhu. Namun tiba-tiba saja datang sang imam dan mengusir murid-murid madrasah yang dianggap masih kanak-kanak itu. Rupanya, ia khawatir kalau-kalau mereka menghabiskan jatah air wudhu. Sebagian besar murid-murid itu berlarian menyingkir karena bentakan sang imam, sementara sebagian kecil bertahan di tempatnya. Mengalami peristiwa tersebut, al Banna lalu mengambil secarik kertas dan menulis uraian kalimat yang ditutup dengan satu ayat Al Qur'an, "Dan janganlah kamu mengusir orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya."(Q. S. Al-An'aam: 52).
Kertas itu dengan penuh hormat ia berikan kepada Syaikh Muhammad Sa'id, imam mushalla yang menghardik kawan-kawannya. Membaca surat Hasan al Banna hati sang imam tersentuh, hingga pada hari selanjutnya sikapnya berubah terhadap "rombongan anak-anak kecil" tersebut. Sementara para murid pun sepakat untuk mengisi kembali kolam tempat wudhu setiap mereka selesai shalat di mushalla. Bahkan para murid itu berinisiatif untuk mengumpulkan dana untuk membeli tikar mushalla!

Pada usia 21 tahun, beliau menamatkan studinya di Darul 'Ulum dan ditunjuk menjadi guru di Isma'iliyah. Hasan Al Banna sangat prihatin dengan kelakuan Inggris yang memperbudak bangsanya. Masa itu adalah sebuah masa di mana umat Islam sedang mengalami kegoncangan hebat. Kekhalifahan Utsmaniyah (di Turki), sebagai pengayom umat Islam di seluruh dunia mengalami keruntuhan. Umat Islam mengalami kebingungan. Sementara kaum penjajah mempermainkan dunia Islam dengan seenaknya. Bahkan di Turki sendiri, Kemal Attaturk memberangus ajaran Islam di negaranya. Puluhan ulama Turki dijebloskan ke penjara. Demikianlah keadaan dunia Islam ketika al Banna berusia muda. Satu di antara penyebab kemunduran umat Islam adalah bahwa umat ini jahil (bodoh) terhadap ajaran Islam.

Maka mulailah Hasan al Banna dengan dakwahnya. Dakwah mengajak manusia kepada Allah, mengajak manusia untuk memberantas kejahiliyahan (kebodohan). Dakwah beliau dimulai dengan menggalang beberapa muridnya. Kemudian beliau berdakwah di kedai-kedai kopi. Hal ini beliau lakukan teratur dua minggu sekali. Beliau dengan perkumpulan yang didirikannya "Al-Ikhwanul Muslimun," bekerja keras siang malam menulis pidato, mengadakan pembinaan, memimpin rapat pertemuan, dll. Dakwahnya mendapat sambutan luas di kalangan umat Islam Mesir. Tercatat kaum muslimin mulai dari golongan buruh/petani, usahawan, ilmuwan, ulama, dokter mendukung dakwah beliau.
Pada masa peperangan antara Arab dan Yahudi (sekitar tahun 45-an), beliau memobilisasi mujahid-mujahid binaannya. Dari seluruh Pasukan Gabungan Arab, hanya ada satu kelompok yang sangat ditakuti Yahudi, yaitu pasukan sukarela Ikhwan. Mujahidin sukarela itu terus merangsek maju, sampai akhirnya terjadilah aib besar yang mencoreng pemerintah Mesir. Amerika Serikat, sobat kental Yahudi mengancam akan mengebom Mesir jika tidak menarik mujahidin Ikhwanul Muslimin. Maka terjadilah sebuah tragedi yang membuktikan betapa pengecutnya manusia. Ribuan mujahid Mesir ditarik ke belakang, kemudian dilucuti. Oleh siapa? Oleh pasukan pemerintah Mesir! Bahkan tidak itu saja, para mujahidin yang ikhlas ini lalu dijebloskan ke penjara-penjara militer. Bahkan beberapa waktu setelah itu Hasan al Banna, selaku pimpinan Ikhwanul Muslimin menemui syahidnya dalam sebuah peristiwa yang dirancang oleh musuh-musuh Allah.

Dakwah beliau bersifat internasional. Bahkan segera setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Hasan al Banna segera menyatakan dukungannya. Kontak dengan tokoh ulama Indonesia pun dijalin. Tercatat M. Natsir pernah berpidato didepan rapat Ikhwanul Muslimin. (catatan : M. Natsir di kemudian hari menjadi PM Indonesia ketika RIS berubah kembali menjadi negara kesatuan).
Syahidnya Hasan Al-Banna tidak berarti surutnya dakwah beliau. Sudah menjadi kehendak Allah, bahwa kapan pun dan di mana pun dakwah Islam tidak akan pernah berhenti, meskipun musuh-musuh Islam sekuat tenaga berusaha memadamkannya.

Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. (Q. S. Ash-Shaff: 8)
Masa-masa sepeninggal Hasan Al-Banna, adalah masa-masa penuh cobaan untuk umat Islam di Mesir. Banyak murid-murid beliau yang disiksa, dijebloskan ke penjara, bahkan dihukum mati, terutama ketika Mesir di perintah oleh Jamal Abdul Naseer, seorang diktator yang condong ke Sovyet. Banyak pula murid beliau yang terpaksa mengungsi ke luar negeri, bahkan ke Eropa. Pengungsian bagi mereka bukanlah suatu yang disesali. Bagi mereka di mana pun adalah bumi Allah, di mana pun adalah lahan dakwah. Para pengamat mensinyalir, dakwah Islam di Barat tidaklah terlepas dari jerih payah mereka. Demikianlah, siksaan, tekanan, pembunuhan tidak akan memadamkan cahaya Allah. Bahkan semuanya seakan-akan menjadi penyubur dakwah itu sendiri, sehingga dakwah Islam makin tersebar luas.

Di antara karya penerus perjuangan beliau yang terkenal adalah Fi Dzilaalil Qur'an (di bawah lindungan Al-Qur'an) karya Sayyid Quthb. Sebuah kitab tafsir Al-Qur'an yang sangat berbobot di jaman kontemporer ini. Ulama-ulama kita pun menjadikannya sebagai rujukan terjemahan Al-Qur'an dalam Bahasa Indonesia. Di antaranya adalah Al-Qu'an dan Terjemahannya keluaran Depag RI, kemudian Tafsir Al-Azhar karya seorang ulama Indonesia Buya Hamka. Mengenal sosok beliau akanlah terasa komplit apabila kita mengetahui prinsip dan keyakinan beliau.
Berikut ini adalah prinsip-prinsip yang senantiasa beliau pegang teguh dalam dakwahnya:
Saya meyakini: "Sesungguhnya segala urusan bagi Allah. Nabi Muhammad SAW junjungan kita, penutup para Rasul yang diutus untuk seluruh umat manusia. Sesungguhnya hari pembalasan itu haq (akan datang). Al-Qur’an itu Kitabullah. Islam itu perundang-undangan yang lengkap untuk mengatur kehidupan dunia akhirat."
Saya berjanji: "Akan mengarahkan diri saya sesuai dengan Al-Qur’an dan berpegang teguh dengan sunah suci. Saya akan mempelajari Sirah Nabi dan para sahabat yang mulia."
Saya meyakini: "Sesungguhnya istiqomah, kemuliaan dan ilmu bagian dari sendi Islam."
Saya berjanji: "Akan menjadi orang yang istiqomah yang menunaikan ibadah serta menjauhi segala kemunkaran. Menghiasi diri dengan akhlak-akhlak mulia dan meninggalkan akhlak-akhlak yang buruk. Memilih dan membiasakan diri dengan kebiasaan-kebiasaan islami semampu saya. Mengutamakan kekeluargaan dan kasih sayang dalam berhukum dan di pengadilan. Tidak akan pergi ke pengadilan kecuali jika terpaksa, akan selalu mengumandangkan syiar-syiar islam dan bahasanya. Berusaha menyebarkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat untuk seluruh lapisan umat ini."
Saya meyakini: "Seorang muslim dituntut untuk bekerja dan mencari nafkah, di dalam hartanya yang diusahakan itu ada haq dan wajib dikeluarkan untuk orang yang membutuhkan dan orang yang tidak punya.
Saya berjanji: "Akan berusaha untuk penghidupan saya dan berhemat untuk masa depan saya. Akan menunaikan zakat harta dan menyisihkan sebagian dari usaha itu untuk kegiatan-kegiatan kebajikan. Akan menyokong semua proyek ekonomi yang islami, dan bermanfaat serta mengutamakan hasil-hasil produksi dalam negeri dan negara Islam lainnya. Tidak akan melakukan transaksi riba dalam semua urusan dan tidak melibatkan diri dalam kemewahan yang diatas kemampuan saya."
Saya meyakini: "Seorang muslim bertanggung jawab terhadap keluarganya, diantara kewajibannya menjaga kesehatan, aqidah dan akhlak mereka."
Saya berjanji: "Akan bekerja untuk itu dengan segala upaya. Akan menyiarkan ajaran-ajaran islam pada seluruh keluarga saya, dengan pelajaran-pelajaran islami. Tidak akan memasukkan anak-anak saya ke sekolah yang tidak dapat menjaga aqidah dan akhlak mereka. Akan menolak seluruh media massa, buletin-buletin dan buku-buku serta tidak berhubungan dengan perkumpulan-perkumpulan yang tidak berorientasi pada ajaran Islam."
Saya meyakini: "Di antara kewajiban seorang muslim menghidupkan kembali kejayaan Islam dengan membangkitkan bangsanya dan mengembalikan syariatnya, panji-panji islam harus menjadi panutan umat manusia. Tugas seorang muslim mendidik masyarakat dunia menurut prinsip-prinsip Islam."
Saya berjanji: "Akan bersungguh-sungguh dalam menjalankan risalah ini selama hidupku dan mengorbankan segala yang saya miliki demi terlaksananya misi (risalah) tersebut."
Saya meyakini: "Bahwa kaum muslim adalah umat yang satu, yang diikat dalam satu aqidah islam, bahwa islam yang memerintahkan pemelukya untuk berbuat baik (ihsan) kepada seluruh manusia."
Saya berjanji: "Akan mengerahkan segenap upaya untuk menguatkan ikatan persaudaraan antara kaum muslimin dan mengikis perpecahan dan sengketa di antara golongan-golongan mereka."
Saya meyakini: "Sesungguhnya rahasia kemunduran umat Islam, karena jauhnya mereka dari "dien" (agama) mereka, dan hal yang mendasar dari perbaikan itu adalah kembali kepada pengajaran Islam dan hukum-hukumnya, itu semua mungkin apabila setiap kaum muslimin bekerja untuk itu."

ref : http://deddy24.blogspot.com/2005/03/biografi-hasan-al-banna.html
READ MORE - Hasan Al-Banna